Belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris, Kediri

Ilman sudah tiga bulan menetap di Kampung Inggris (Kampung Bule) di Kecamatan Pare, Kediri. Ia ingin mendalami Bahasa Inggris, belajar langsung dengan native speaker. FOTO: DOKUMENTASI

KEDIRI, SEKALIJALAN.COM – Ilman sudah tiga bulan menetap di Kampung Inggris (Kampung Bule) di Kecamatan Pare, Kediri. Ia ingin mendalami Bahasa Inggris, belajar langsung dengan native speaker. Bukan hanya Ilman yang punya motivasi seperti itu, ribuan orang yang datang ke Pare juga terdorong hal yang sama. Belajar Bahasa Inggris, teori dan praktiknya, untuk mengejar beasiswa, demi jenjang karier atau sekadar ingin mendapat wawasan lebih. “Aku merasakan nuansa edukasi di Pare ini terasa banget. Yang belajar Bahasa Inggrisnya juga beragam, dari yang usia remaja, sampai yang sudah punya cucu, sama-sama belajar, sharing,” kata Ilman kepada sekalijalan.com, akhir pekan lalu.

Bagi para pendatang yang pertama kali mengunjungi Kediri, aksesnya juga memudahkan. Di tengah kota, mudah ditemukan agen travel yang menyediakan fasilitas antar jemput dari Bandara Juanda (Surabaya)-Pare. Memakan waktu sekitar tiga jam perjalanan.

Banyak fasilitas kursus Bahasa Inggris. Pengunjung tinggal memilih berdasarkan kebutuhan. Apakah mau belajar speaking, grammar, writing atau listening. “Sistem kelasnya formal. Untuk nambah ilmu, kita juga bisa sharing dengan anak-anak lain di kafe-kafe. jadi, suananya lebih santai,” ujar pria asal Makassar ini.

Sebenarnya pemandangan di sekitar Kampung Inggris yang berada di Desa Tulungrejo dan Desa Singgahan, Kecamatan Pare, Kediri tak banyak banyak bule atau turis asing berseliweran seperti kota-kota wisata di Kuta, Yogyakarta, atau kota turis lainnya.Justru pemandangan yang mendominasi di sepanjang Jalan Brawijaya, Jalan Kemuning, Jalan Anyelir, dan sekitarnya yang dikenal sebagai Kampung Inggris justru didominasi pengendara sepeda pancal, deretan warung , toko, warung internet, dan lembaga kursus bahasa Inggris.  Serta fasilitas seperti ATM aneka bank, jasa laundry, spanduk, dan banner yang berlomba menawarkan rumah kos murah.

“Budget kos-kosan juga murah. Dari yang Rp 150 ribu ada. Biaya hidup juga murah. Minimal per bulan Rp 1,5 juta, sampai Rp 2 juta. Selain kos-kosan bisa nge-camp juga,”kata Ilman.  Nge-camp yang dimaksud si pengunjung bisa tinggal di penginapan yang disediakan oleh lembaga, yang di dalamnya ada program Bahasa Inggris seperti area wajib berbahasa Inggris 24 jam, atau program-progra yang layaknya kursus.

“Nuansa di sini sangat kondusif, karena semua orang fokus belajar Bahasa Inggris.  Makanannya juga enak dan murah,”tambah Ilman. Bahkan menjelang malam, Pare ttetap ramai. Kafe maupun warung jadi tujuan favorit. (NOR)

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*