Event Menari di Atas Awan Bromo Akan Dilaksanakan Lebih Besar Lagi

Para penari saat tampil di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS) di wilayah Kabupaten Lumajang, Minggu (7/5/2017). FOTO:balipost

SEKALIJALAN.COM, SURABAYA – Sebanyak 56 penari tampil di atas puncak B-29, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS) di wilayah Kabupaten Lumajang, Minggu (7/5/2017). Penari secara bergantian menari di ketinggian 2.900 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kolaborasi unik dan diiringi dua alat music cello. Masing-masing dimainkan dua musisi asal Inggris.

Beberapa penari tampil dalam kelompok yang berbeda sesuai tema tarian. Beberapa kelompok ada yang terdiri dua sampai lima penari. Beberapa tema music dan tarian ada pula yang menampilkan seorang seniman tari.  Para penari dari berbagai daerah ini menari dengan background lautan pasir Gunung Bromo jauh di bawah.

Para penari ini adalah  seniman tari Jatim seperti STKW Surabaya, Malang Dance, Studio Plesungan Solo, Institut Seni Indonesia (ISI) Solo dan Isi Yogyakarta. Uniknya iringan musiknya bukan lagi gamelan seperti biasanya, namun musik akustik.

Event yang bisa jadi merupakan kali pertama digelar di tanah air ini akan menjadi kalender pariwisata tahunan Dinas Pariwisata Budaya (Disparbud) Kabupaten Lumajang. ‘’Tahun depan kami akan laksanakan lebih besar lagi. Karena yang pertama ini cukup sukses,’’ kata Deni Rohman, Kepala Disparbud Kabupaten Lumajang, Senin (8/5/2017) seperti dikutip dari Indopos.

Menikmati panorama Gunung Bromo dari viev poin di puncak penanjakan, kawasan taman nasional bromo tengger semeru (TNBTS),

Untuk pelaksanaan ini, Disparbud Lumajang menggandeng lembaga pemerhati seni dan lingkungan Lumajang, Laskar Hijau. Even ini juga dalam rangka memperingati hari tari sedunia yang jatuh pada 29 April lalu.Pada event yang unik dan langka ini, jumlah penari yang ambil bagian sebanyak 56 penari.

 

Suryo Darmo salah satu pelatih tari mengatakan, “arena tidak hanya panggung, panggung alam ini menjadi tantangan sendiri”. Dia megakui tidak bisa mengontrol bagaimana kondisi alam. Sebab berbeda dengan kondisi panggung tertutup. Semua bisa dikontrol, namun jika nemampilkan kesenian di alam, segala sesuatunya sangat mungkin terjadi. Artinya dengan menggunakan panggung alam ini, hujan bisa saja terjadi.

Sementara itu penyelenggara even, yang juga Koordinator Laskar Hijau, Aak Abdullah Al Kudus, mengatakan ide awalnya karena melihat potensi B-29 yg luar biasa tapi sepi atraksi. ‘’Ketika saya ke sana saya tiba-tiba ingin baca puisi, tapi saya juga membayangkan jika di puncak B-29 ada orang menari, pastilah akan luar biasa,”ujarnya. (*/ULSormin)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*