Melihat Ritual Menurunkan Garam di Desa Budaya Dokan Karo

Desa Budaya Dokan yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Kabanjahe, Sumatera Utara.

SEKALIJALAN.COM, MEDAN – Desa Budaya Dokan yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Kabanjahe, Sumatera Utara ini memang sangat menyenangkan untuk disambangi. Pengunjungnya yang belum banyak, desa ini juga menjadi salah satu dari tiga desa yang mewakili sejarah dan peradaban budaya Karo. Letak strategis desa yang berada antara Kota Berastagi dan Danau Toba juga pantas menjadikannya sebagai destinasi wisata yang menarik.

Kamis (11/05/2017), tepatnya mulai pukul 06.00 WIB, Desa Dokan menghiasi diriya. Tradisi Lisan yang akan menghadirkan sebuah ritual bernama “Penusur Sira”, yang berarti ritual menurunkan garam, akan diselenggarakan di Desa Dokan, Kecamatan Merek.

Ritual Penusur Sira dalam keyakinan yang disebut ‘Pemena’ tersebut diyakini dapat menerawang hal baik dan buruk. Sira (garam) yang ada di rumah adat Siwaluh Jabu diyakini masyarakat Dokan adalah jelmaan dari Nini si br Pakkar.

Dokan merupakan sebuah desa yang indah, memiliki 8 rumah tradisional dan tinggal 7 rumah yang masih digunakan

Menurut beberapa narasumber yang ada di Desa Dokan, sumber garam yang ada di Siwaluh Jabu tidak pernah habis walaupun telah dipakai berkali-kali khusus untuk aktivitas masyarakat setempat. Untuk menggelar kegiatan tersebut, sang pemilik sira, Ginting Mergana beserta seluruh keluarganya pun memberikan izin bagi terlaksananya ritual tersebut.

Lewat gelaran Dokan Art Festival, Rumah Karya Indonesia (RKI) tahu betul bahwa umtuk memaknai, merawat, dan menghidupkan tradisi, khususnya Budaya Karo, generasi muda harus diberikan edukasi secara langsung dengan melibatkan partisipasi mereka didalamnya. Karenanya, Oojax Manalu, selaku Direktur Pelaksana Rumah Karya Indonesia menyebutkan kegiatan tersebut akan dimeriahkan oleh berbagai kegiatan menarik.

“Kami juga akan mengundang beberapa penyanyi kenamaan dari Karo, seperti Tiofanta Pinem. Kami berharap banyak masyarakat yang hadir untuk menyaksikan ritual yang sangat sacral tersebut. Sebab hal tersebut adalah warisan budaya yang harus diapresiasi oleh masyarakat,”ujar Oojak kepada SekaliJalan. (Elsa Olivia Karina)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*