Menikmati Momen Khidmat dan Khusyuk dalam Prosesi Banyu Pinaruh di Bali

Prosesi Banyu Pinaruh di Bali. FOTO: fabulousubud

BALI, SEKALIJALAN.COMBali selalu punya magnet yang menghipnoits para wisatawan sehingga tak bosan-bosannya berkunjung. Baik itu panorama alamnya maupun kebudayaannya. Prosesi dan tradisi budaya di Bali yang secara teratur dijalankan oleh masyarakat menjadi daya tarik bagi para pendatang. Dijalankan secara khidmat dan khusyuk, setiap pengunjung pun tak ingin ketinggalan setiap momen prosesi

Satu di antara prosesi tersebut adalah Banyu Pinaruh. Banyu Pinaruh yang merupakan prosesi berih pantai bakal digelar di sejumlah pantai, Minggu (22/1/2017). “Oleh karena daya tarik culture-nya sangat kuat. Dikombinasikan dnegan nature yang keren. Kekuatan culture Bali itulah yang terus dipromosikan di mancanegara,” kata Menpar Arief Yahya dalam rilis yang disampaikan akhir pekan lalu.

Dalam setiap prosesi Banyu Pinaruh, umat Hindu akan mempersembahkan sesajen serta melakukan persembahyangan di pinggir pantai atau sumber air lainnya. Setelah itu dilanjutkan dengan proses pembersihan badan, yakni mandi dengan prosesi kum-kuman.  Pada prosesi kum-kuman ini menggunakan air bunga yang membasuh wajah serta badan kita. Di momen seperti ini, biasanya dimanfaatkan oleh para wisatawan untuk ikut berbaur dan foto-foto.

Tak sampai di situ saja, pada ritual Banyu Pinaruh juga akan ada prosesi meminum racem. Racem adalahminuman tradisional Bali yang juga menarik dan disukai wisatawan. “Ritual Banyu Pinaruh ini sangat menarik dan memang kami terapkan sebagai wisata kearifan lokal. Selain dapat mengenal adat dan budaya lokal, bisa mengenal alam bahari di sekitar kita terutama Pantai,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Bali Agung Gede Yuniartha Putra.

 

Seperti disebutkan sebelumnya, Banyu Pinaruh adalah ritual pembersihan diri menggunakan sumber-sumber air yang ada. Dan diharapkan momen ini bisa sekaligus menjadi wisata bahari yang penuh makna.  Jadi, selain dapat melestarikan warisan tradisi lokal, juga dapat berlibur menikmatinya.

“Kami menghaturkan canang (rangkaian janur dan bunga) untuk dipersembahkan sebelum melakukan Banyu Pinaruh atau pembersihan diri di pantai,”Agung Gede Yuniartha menambahkan.

 

Banyu Pinaruh, tradisi umat Hindu di Bali.  Foto: Getty Images.

Seperti diketahui, komposisi ketertarikan turis berwisata ke Pulau Dewata adalah 60% budaya, 35% alam, dan 5% karya cipta tangan-tangan kreatif orang. Kearifan lokal ini dipastikan akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. (LEN)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*