Merayakan Perbedaan di Festival Grebeg Sudiro

Gunungan kue keranjang dalam Festival Grebeg Sudiro di Solo

SOLO, SEKALIJALAN.COM – Perpaduan budaya Nusantara dan Tionghoa menjadi ciri khas dan sajian utama Festival Grebeg Sudiro yang mulai berlangsung pada Selasa (17/1/2017). Di Festival Grebeg Sudiro masyarakat juga bisa menyaksikanarak-arakan gunungan. Ribuan orang akan turun ke jalan membanjiri festival ini. Semua saling berbaur merayakan keberagaman budaya.

Selain lampion, patung 12 zodiac Tionghoa tetap dihadirkan di sepanjang Koridor Jenderal Sudirman. Juga ditambah enam lampion ayam sesuai shio tahun ini yakni ayam api. Serta patung panda dan dewa uang.Seluruh perayaan tersebut bakal ditutup dengan lampion terbang dan pesta kembang api pada 27 Januari malam.

Adapun puncak perayaan Grebeg Sudiro adalah perebutan hasil bumi, makanan,yang disusun membentuk gunung. Dalam Grebeg Sudiro gunungan disusun dari ribuan kue keranjang, kue khas Imlek. Gunungan ini diarak di sekitar kawasan Kelurahan Sudiroprajan. 

Panitia merencanakan area Pasar Gede akan menjadi  kawasan car free night (CFN) berkoordinasi dengan Pemkot Solo. Ketua Panitia Bersama SIF, Sumartono Hadinoto memaparkan bahwa pihaknya bekerja sama dengan  Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA), dan Indonesia Marketing Assosiation (IMA) membuka tiga paket promosi dalam rangka SIF. Termasuk pre-event dan pasca-event.

“Kami berharap acara ini terus berlangsung sebagai akulturasi budaya, pluralisme, dan toleransi yang luar biasa,” kata Sumartono. Sebelumnya, Menpar Arief Yahya menyebut Solo adalah salah satu kota dengan calender of events yang lengkap dalam satu tahun. Hampir setiap Minggu, selama 52 Minggu dalam setahun, Solo sudah penuh dengan berbagai event. (*/NOR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*