Pendaki Pemula Juga Bisa Nyaman Menikmati Fenomena Blue Fire di Kawah Ijen

Fenomena blue fire di Kawah Ijen

BANYUWANGI, SEKALIJALAN.COM – Jika Islandia menjadi tujuan favorit para pejalan untuk menikmati fenomena aurora (pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer), di Banyuwangi, fenomena alam berupa blue fire menjadi daya tarik tersendiri. Blue fire yang sangat langka ini bisa didapati di Kawah Ijen yang berada di wilayah perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso.

Walaupun namanya blue fire, sebenarnya pemandangan alam yang memukau ini bukanlah api. Berdasarkan penelitian, blue fire adalah percikan biru yang merupakan hasil reaksi dari gas bumi yang bertemu dengan oksigen pada suhu tertentu. Tapi, apapun itu, bisa menyaksikan blue fire di Kawah Ijen saat dini hari, tentu merupakan momen spesial.

Aditya, seorang traveler yang sudah puluhan kali melakukan pendakian ke Kawah Ijen, kepada sekalijalan menuturkan bahwa proses untuk menyaksikan blue fire sebenarnya tidak sulit.  Aditya memaparkan bahwa medan pendakian berjarak sekitar 2,5 km. Bagi pendaki pemula, dubutuhkan waktu aling lama dua jam dan tercepat satu jam. “Nggak perlu ribet bawa peralatan yang gimana gimana, tapi alangkah baiknya membawa masker untuk jaga-jaga bagi yang barangkali sensitif dengan udara dingin dan kandungan gas belerang,” ujar Aditya. Ia juga menyarankan agar menggunakan sepatu yang ringan.

Penunjuk jalan menuju Kawah Ijen.
FOTO:DOKUMENTASI

Kawah Ijen termasuk gunung yang masih aktif sampai sekarang dan memiliki ketinggian 2.443 m. Saat mendaki Ijen di titik 1.500 meter, akan ada tempar peristirahat berupa warung. “Sekitar tiga perempat pendakian, yang mau ngeteh, atau nyantai, bisa di situ. Jadi mendaki Ijen itu nggak terlalu sulit sebenarnya,”katanya. Tentunya, pada musim hujan, tidak dianjurkan untuk mendaki karena medan yang licin.

Momen terbaik untuk mendaki gunung pukul 05.0WIB sampai 06.00 WIB karena saat  pagi hari matahari belum bersinar terik. Dan, tentunya pemandangan pagi hari lebih indah karena banyak kabut yang menyelumuti gunung dan uap belerang belum berbau.

Aditya, seorang traveler saat menikmati pemandangan puncak di Kawah Ijen.
FOTO:DOKUMENTASI

Tiba di bandara setempat, para pejalan bisa memilih naik bus dan kemudian turun di Terminal Brawijaya. Sesudah itu, ada ojek yang bisa menjadi sarana transportasi berikutnya. “Bayar ojeknya Rp 200.000. Teman-teman backpacker senangnya naik ojek. Lebih enak, lebih fleksibel. Bisa request di mana saja, untuk nikmati atau ambil spot foto keren,” kata Aditya.

Tukang ojek akan mengantakan pejalan tepat di pos pendaki. “Lebih praktis naik ojek. Kalau ramai-ramai bisa sewa mobil. Jalannya juga sudah bagus,”Aditya menambahkan. (NOR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*