Prosesi Bakar Tongkang di Bagansiapiapi Mulai 10 Juni 2017

Upacara Bakar Tongkang di Bagansiapiapi berlangsun pada 10 Juni-11 Juni 2017.

SEKALIJALAN.COM, RIAU Festival Bakar Tongkang di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), yang bakal berlangsung pada 10-11 Juni 2017, tentu akan menjadi penarik bagi wisatawan mancanegara khususnya.  Sebab kegiatan ini sudah dikenal di berbagai penjuru dunia. “Bahkan banyak yang berasal dari Malaysia, Singapura, Thailand, Taiwan hingga China Daratan,” kata Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman.

Festival Bakar Tongkang merupakan bagian dari adat Tionghoa yang sudah menyatu dengan masyarakat Bagansiapiapi ini merupakan momen unuk memperingati kehadiran masyarakat Tionghoa ke tanah Bagansiapiapi pada tahun 1820.

Adapun upacara bakar tongkang yang dilakukan merupakan simbol bahwa masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi tak akan kembali lagi ke tanah leluhur dan berjanji untuk mengembangkan diri di kota yang punya julukan Hong Kong van Andalas.

Jelang prosesi Bakar, kunjungan wisatawan ke Bagansiapi-api meningkat, terbukti dengan penuhnya kamar hotel di kawasan Bagansiapiapi

“Ritual yang dikenal dengan nama Go Gek Cap Lak dalam bahasa Hokkiein ini sudah berlangsung sejak 134 tahun silam. Pada zaman orde baru, ritual ini sempat dilarang. Namun, sejak era kepemimpinan Gus Dur larangan terhadap ritual ini dihapuskan,” kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, Fahmizal Usman, seperti dikutip dari Indopos, Senin (29/5/2017)

Festival Bakar Tongkang akan diawali dengan sembahyang di kelenteng Ing Hok Kiong yang merupakan kelenteng tertua di kawasan Pekong Besar. Lalu acara dilanjutkan dengan arak-arakan ke tempat pembakaran hingga berlanjut ke prosesi pembakaran di hari berikutnya.

“Prosesi pembakaran tongkang biasanya diawali dengan menetapkan posisi haluan tongkang sesuai petunjuk Dewa Kie Ong Ya atau Dewa laut. Setelah mengetahui posisinya, tongkang akan diletakkan pada posisi pembakaran dan kertas sembahyang ditimbun dekat lambung kapal yang siap untuk dibakar,”  Fahmizal Usman menjelaskan.

Tak hanya itu, selama ritual ini, berbagai kelenteng yang memenuhi Bagan Siapiapi melakukan upacara pemanggilan roh. Biasanya ada orang yang bersedia menjadi medium untuk dirasuki roh.

Ia juga mengimbau kepada masyarakat Tionghoa pada malam hiburan Bakar Tongkang yang dipusatkan di depan Kelenteng Ing Hok King untuk tetap menjaga toleransi beragama mengingat pelaksanaannya bertepatan dengan bulan suci Ramadan. “Kita minta malam hiburan Bakar Tongkang nanti dilakukan seperti tahun lalu setelah sholat Tarawih,” katanya.

Menurutnya Fahmizal Usman, selain mengembangkan dan mempromosikan potensi wisata daerah yang sangat menjanjikan, dengan adanya acara Ritual Bakar Tongkang masyarakat juga dapat imbas perekonomiannya.Event Bakar Tongkang biasanya didominasi wisatawan mancanegara marga Tionghoa. Mereka tersebar di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Kanada, China, Hong Kong, Malaysia, Singapura.

“Bakar Tongkang juga mampu mendatangkan puluhan ribu orang wisatawan, baik domestik maupun wisatawan internasional. Yang datang biasanya mereka punya keturunan (keluarga-red) di Rohil. Itu banyak sekali,” tambahnya.

Kalau soal promosi, Menteri Pariwisata Arief Yahya akan membantu, karena event itu sudah berkelas dunia dan banyak wisatawan yang datang mengikuti prosesi itu. Kegiatan ini juga sudah masuk Calender of Event Riau, yang diusulkan sebagai kegiatan nasional. (*/ULSormin)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*