Upacara Tiwah, Ritual Sakral Terbesar di Gunung Mas

Upacara Tiwah merupakan upacara sakral terbesar dan membutuhkan persyaratan yang harus dipenuhi, diantaranya harus tersedia hewan korban seperti kerbau, sapi, babi, ayam.

GUNUNG MAS, SEKALI JALAN.COM– Menyaksikan kultur atau kebudayaan suatu daerah yang berbeda dari kultur kita merupakan sebuah pengalaman sekaligus pembelajaran. Di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, yang selalu disebut-sebut sebagai lokasi eksplorasi tambang, selain sumber daya alamnya, upacara adatnya juga layak disaksikan. Di  kawasan yang mayoritas dihuni suku Dayak ini, Kabupaten Gunung Mas memiliki upacara adat yang terkenal, yaitu Upacara Tiwah atau Tiwah Lale atau Magah Salumpuk liau Uluh Matei. Upacara Tiwah merupakan seremoni adat terbesar untuk mengantarkan jiwa atau roh manusia yang telah meninggal dunia menuju tempat yang letaknya di langit ke tujuh.

Menurut kepercayaan setempat, jiwa atau roh seseorang yang telah meninggal dunia (disebut juga Salumpuk Liau) harus dikembalikan kepada Hatalla. Prinsip keyakinan Kaharingan menyatakan bahwa tanpa diantar ke Lewu Liau dengan sarana upacara Tiwah, tak akan mungkin arwah mencapai lewu liau.

Upacara besar ini biasanya berlangsung selama tujuh sampai empat puluh hari. Dan, tentu saja membutuhkan dana yang tidak sedikit. Tetapi, karena adanya sifat gotong royong yang telah mendarah daging, maka segala kesulitan dapat diatasi. Tumbuh suburnya prinsip saling mendukung dalam kebersamaan menumbuhkan sifat kepedulian yang sangat mendalam sehingga kewajiban melaksanakan upacara Tiwah bagi keluarga-keluarga yang ditinggalkan didukung dan dilaksanakan bersama oleh mereka yang merasa senasib dan sepenanggungan.

Untuk melaksanakan upacara Tiwah, banyak persyaratan yang harus dipenuhi, diantaranya harus tersedia hewan korban seperti kerbau, sapi, babi, ayam, bahkan di masa yang telah lalu persyaratan yang tersedia masih dilengkapi lagi dengan kepala manusia. Namun di masa kini kepala manusia digantikan oleh kepala kerbau atau kepala sapi. Upacara Tiwah berlangsung sampai dengan tujuh hari, namun setelah istirahat sehari, dilanjutkan lagi selama tiga hari berturut-turut.

Di samping Tiwah, upacara adat lainnya adalah Balian Balaku Untung, merupakan salah satu upacara adat yang bertujuan meminta umur panjang, banyak rezeki serta mendapat berkat dari Ranying Hatalla. (*/LEN)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*